China bisa jadi sebagai harapan terakhir Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran. Ketidakmampuan Trump dalam membuka Selat Hormuz, membuatnya akan menjadikan momentum pertemu dengan Presiden Xi Jinping sebagai agenda di mana perang Iran dibicarakan.
The Atlantic dalam analisisnya, Minggu (10/5/2026) menggambarkan Iran telah berhasil membalikkan meja dengan menjadikan Selat Hormuz sebagai senjata ekonomi yang lebih mematikan daripada hulu ledak nuklir, menyandera pasar energi global dan membuat kampanye militer AS-Israel selama 37 hari terasa sia-sia.
Sementara CNN menilai tanpa kartu tekanan yang tersisa, Trump kini terpaksa terbang menemui rival terbesarnya untuk mencari jalan keluar dari lubang yang ia gali sendiri.
Di meja perundingan Beijing, posisi tawar kini sepenuhnya berada di tangan Xi Jinping, di mana Trump dipandang lebih membutuhkan China daripada sebaliknya. Meski Trump mencoba merayu dengan paket ekonomi seperti pembelian Boeing dan komoditas pangan, China kemungkinan besar akan menagih mahar yang sangat mahal yakno konsesi atas Taiwan.
Dengan amunisi AS yang terkuras dan aset militer yang dialihkan ke Timur Tengah, Washington berada dalam posisi terlemah untuk melindungi Taipei, memberikan kesempatan emas bagi Beijing untuk menekan AS agar berhenti mencampuri urusan kedaulatan mereka.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Sacrifices - Anno Domini Beats
#global #konflik ##kompascomlab #Iran #Amerika #TrumpXiJinping #Trump #XiJinping #SelatHormuz