Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), nilai tukar rupiah menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi ini dinilai dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang membuat investor semakin berhati-hati menempatkan dana di aset berbasis rupiah.
Kepala ekonom Permata Bank, Josua Pardede menilai, gejolak geopolitik internasional dan domestik menjadi faktor utama yang memicu pelemahan mata uang Indonesia.
Menurut Josua, kenaikan harga minyak dunia dan menguatnya dolar AS akibat memanasnya konflik di Asia Barat yang dipicu serangan AS dan Israel ke Iran, membuat tekanan terhadap rupiah semakin besar.
Indonesia dinilai cukup rentan karena masih bergantung pada impor energi dalam jumlah tinggi.