Fenomena beralihnya pekerja sektor formal dengan pendidikan tinggi, ke sektor informal seperti ojek online (ojol) terus mewarnai dinamika ekonomi di Ibu Kota. Bukan sekadar profesi sampingan, menjadi driver ojol kini menjadi sandaran hidup utama bagi banyak orang.
Kisah pertama datang dari Aan Hidayat, seorang lulusan Akuntansi tahun 1998 yang pernah meniti karier di dunia perbankan. Selama lima tahun (2003-2008), ia bekerja di Bank Swasta sebelum akhirnya terkena efisiensi.
"Enak aja nih, santai," ujar Aan saat ditanya mengenai perbedaannya dengan kerja kantoran. Meski memiliki latar belakang pendidikan akuntansi, Aan mengaku sudah tidak memiliki ketertarikan untuk kembali ke dunia korporasi. Baginya, fleksibilitas waktu menjadi alasan utama ia tetap bertahan di profesi ini.
Kisah serupa namun tak sama dialami oleh Aan Junaedi. Pria berusia 42 tahun ini adalah lulusan tahun 2008 yang sebelumnya bekerja selama 7 tahun sebagai sopir logistik yang menyuplai barang ke berbagai pasar di Jakarta. Namun, hantaman pandemi COVID-19 pada 2019 mengubah segalanya.
"Pas Corona itu, sudah nggak bisa cari kerjaan lagi. Sempat nyari lowongan di gudang mall, tapi nggak masuk. Akhirnya ada lowongan online ini, saya masuk. Sampai sekarang sudah terpaku di sini," kenang Aan Junaedi.
Simak selengkapnya dalam berikut ini
Penulis: Siti Laela Malhikmah
Video Jurnalis: Siti Laela Malhikmah
Video Editor: Siti Laela Malhikmah
Produser: Abba Gabriliin
#Ojol #OjekOnline #TarifOjol #Humaniora #Kisah #News #vjlab