Amerika seakan menemui jalan buntu. Meskipun Donald Trump mengeklaim ekonomi dan militer Iran hampir runtuh, analisis intelijen CIA justru mengungkap bahwa Teheran mampu bertahan dari blokade selama 120 hari melalui taktik cerdik. Di sisi lain, Arab Saudi dan beberapa negara bermain 'dua kaki', dengan menekan AS untuk menghentikan "Project Freedom" demi menyelematkan diri dari serangan Iran di kawasan.
Temuan CIA mengungkapkan, Iran memanfaatkan kapal tanker sebagai gudang minyak terapung, membangun jalur penyelundupan darat ke Asia Tengah, dan tetap mempertahankan sekitar 70% stok rudalnya meski terus dibombardir. Dengan doktrin yang lebih memilih menekan risiko internal daripada tunduk pada Washington, Iran menunjukkan bahwa tekanan ekonomi AS belum mampu meruntuhkan kontrol rezim maupun jaringan proksinya di kawasan.
Di sisi lain, posisi Amerika Serikat semakin terjepit setelah Arab Saudi secara mengejutkan memblokir akses wilayah udara dan pangkalan militer untuk operasi Project Freedom. Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) mulai menggeser haluan dengan memprioritaskan stabilitas kawasan demi ambisi ekonomi Vision 2030, alih-alih menjadi pijakan eskalasi yang berisiko mengundang serangan balasan Iran ke infrastruktur miliknya.
Penolakan Saudi ini tidak hanya melumpuhkan rencana pengawalan maritim Trump dalam hitungan jam, tetapi juga menjadi sinyal kuat bahwa sekutu terdekat Washington mulai meragukan kredibilitas AS sebagai pelindung kawasan.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Eyes of Glory - Aakash Gandhi
#global #konflik ##kompascomlab #Iran #AmerikaSerikat #ArabSaudi