Di tengah kebuntuan negosiasi, AS dilaporkan menyiapkan senjata hipersonik Dark Eagle (Long-Range Hypersonic Weapon) untuk dikerahkan ke Timur Tengah. Rudal seharga Rp260 miliar per unit ini mampu melesat di atas Mach 5 dengan kemampuan manuver meliuk yang mustahil dicegat oleh sistem pertahanan udara konvensional.
Iran menanggapi ancaman tersebut dengan mengeklaim bahwa lebih dari separuh persediaan rudal balistiknya, termasuk sistem terbaru seperti Kheibar Shekan dan rudal hipersonik Fattah, masih utuh dan belum digunakan.
Intelijen AS pun mengakui bahwa ribuan drone dan rudal Iran masih menjadi ancaman nyata bagi pasukan AS di kawasan Teluk. Dengan strategi perang asimetris, Iran menjebak Washington dalam dua pilihan sulit: melanjutkan operasi militer yang mustahil dimenangkan atau menerima kesepakatan damai yang "buruk".
Selama Selat Hormuz tetap terkunci, Teheran merasa memiliki posisi tawar yang lebih kuat meskipun AS memamerkan teknologi tercanggihnya.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Canada - Ramzoid
#global #konflik ##kompascomlab #RudalIran #Iran #Amerika #RudalBalistik #RudalHipersonik