Di tengah berkecamuknya perang Iran, China berhasil meraih keuntungan diplomatik besar akibat kebijakan luar negeri Donald Trump yang agresif terhadap sekutunya sendiri.
Keputusan Trump menarik ribuan pasukan dari Jerman serta ancaman serupa terhadap Italia dan Spanyol telah menciptakan keretakan di internal NATO. Kondisi ini dimanfaatkan Beijing dengan memposisikan diri sebagai mitra yang lebih stabil, sehingga mendorong negara-negara pilar Barat seperti Inggris, Jerman, hingga Kanada mulai "berbalik arah" dan memperbaiki hubungan dengan China demi mengurangi ketergantungan risiko terhadap Amerika Serikat.
Di kawasan Timur Tengah, China memainkan peran ganda yang sangat licin. Mulai dari tampil sebagai juru damai yang menyerukan gencatan senjata di depan publik, namun diam-diam diduga tetap mengalirkan material pendukung militer ke Iran.
Strategi ini membiarkan Amerika Serikat menguras cadangan amunisi dan perhatiannya di Iran, yang secara otomatis memperkuat posisi militer Beijing di Asia. Di saat yang sama, negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan UEA kini lebih memercayai China sebagai penyeimbang kekuatan dan mediator diplomatik yang lebih efektif dibandingkan Washington.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
Music: Eyes of Glory - Aakash Gandhi
#global #konflik ##kompascomlab #China #Iran #Amerika