Qatar menyuarakan kekhawatiran mendalam atas stabilitas kawasan yang kini berada di titik nadir akibat konflik AS-Iran, Rabu (29/4/2026). Doha mendesak adanya jaminan keamanan jangka panjang yang komprehensif, bukan sekadar gencatan senjata sementara, guna memastikan kedaulatan negara-negara Teluk tidak menjadi tumbal politik.
Namun, upaya diplomasi ini berkejaran dengan ketegangan fisik di lapangan; US CENTCOM melaporkan telah mengalihkan 39 kapal melalui blokade ketat di Selat Hormuz, termasuk aksi Marinir AS yang aktif melakukan penggeledahan terhadap kapal komersial yang dicurigai menuju Iran.
Di sisi lain, militer Iran secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak percaya perang telah berakhir dan terus memperbarui "daftar target" mereka selama masa gencatan senjata. Brigjen Mohammad Akrami Nia mengungkapkan bahwa Teheran kini jauh lebih siap dengan sinergi taktis antara Angkatan Bersenjata (Artesh) dan IRGC, terutama dalam mengombinasikan serangan drone dan rudal untuk melumpuhkan pertahanan radar musuh.
Dengan pembagian zona pertahanan di Selat Hormuz yang semakin terkoordinasi, Iran mengirim pesan jelas bahwa mereka memanfaatkan waktu "hening" ini untuk menyiapkan operasi gabungan yang jauh lebih mematikan jika pertempuran kembali pecah.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
#global #konflik ##kompascomlab #SelatHormuz #Iran #Amerika #perangiranamerika