JAKARTA, KOMPASTV - Nilai tukar rupiah kembali melemah dan sempat menembus level terendah sepanjang sejarah, yakni di atas Rp17.300 per dolar Amerika Serikat.
Pelemahan ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional, terutama di tengah meningkatnya tensi geopolitik global.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari faktor eksternal, termasuk situasi di Timur Tengah yang tengah memanas.
Menurutnya, upaya intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia sejauh ini sudah cukup optimal.
Namun, kuatnya sentimen global membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas.
“Kondisi saat ini seperti menggarami air laut. Mendorong rupiah menguat itu sulit karena pengaruh tensi geopolitik. Sentimen juga masih berkaitan dengan penilaian lembaga pemeringkat terhadap kondisi ekonomi Indonesia,” ujar Josua.
Meski demikian, ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung permanen.
Seiring meredanya hambatan pada indikator makroekonomi, nilai tukar rupiah diyakini akan kembali mencerminkan fundamental ekonomi domestik.
Josua juga menilai bahwa faktor sentimen dari konflik di Timur Tengah tidak akan menjadi faktor dominan dalam jangka panjang.
“Ketika tekanan mereda, nilai tukar rupiah berpotensi kembali di bawah Rp17.000 per dolar AS,” tambahnya.
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Produser: Yuilyana
Thumbnail Editor: Joshua
#iran #perang #as
Baca Juga Ressa Maulani Dorong Kolaborasi Industri Lewat Marketing dan Tren Padel di https://www.kompas.tv/advertorial/664957/ressa-maulani-dorong-kolaborasi-industri-lewat-marketing-dan-tren-padel
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/nasional/664971/rupiah-ke-rp17-300-pengaruh-situasi-memanas-di-timur-tengah-ini-kata-kepala-ekonom-kompas-bisnis