SUBANG, KOMPAS.TV - Kasus kekerasan terhadap anak terjadi di sebuah rumah kontrakan di Subang, Jawa Barat, pada 13 Februari lalu.
Gara-gara cekcok dengan suami, seorang ibu tega membekap anak kandungnya menggunakan bantal hingga tewas.
Pelaku mengaku tak berniat menghilangkan nyawa sang anak. Ia hanya berniat meredam tangisan anaknya dan tak menyangka bekapannya malah berujung maut.
Namun, penyelidikan polisi mengungkap pelaku mengaku kesal kepada suaminya hingga tak sengaja melampiaskan kekesalannya kepada sang anak yang menyandang autisme.
Menurut polisi, konflik rumah tangga sudah sering terjadi antara pasangan suami-istri tersebut.
Sementara ayah korban mengaku tak menyangka, karena selama ini istrinya adalah sosok yang sangat menyayangi ketiga anak mereka.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia merespons fenomena kekerasan terhadap anak.
Menurut Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra, kekerasan terhadap anak merupakan bukti kegagalan sistemik pada upaya perlindungan anak.
Tekanan ekonomi keluarga dinilai menjadi salah satu faktor krusial kekerasan terhadap anak.
KPAI mengimbau keluarga sebagai lingkaran terdekat anak mampu menerapkan pola asuh yang berbasis empati dan non-kekerasan.
Kekerasan terhadap anak tentu bukan persoalan domestik keluarga saja.
Kegagalan sistemik sudah pasti berkaitan erat dengan peran lingkungan dan juga negara.
Pemerintah diharapkan mampu memperkuat sistem perlindungan anak.
Mulai dari pengawasan, edukasi kepada masyarakat, hingga penegakan hukum yang tegas bagi pelaku kekerasan.
Kepedulian dan kolaborasi lingkungan sekitar juga diperlukan untuk memastikan setiap anak tumbuh dengan aman dan penuh kasih sayang.
Jangan biarkan anak-anak kehilangan masa depan hanya karena kelalaian kita sebagai orang dewasa yang seharusnya melindungi dan memberi ruang aman bagi mereka.
#kekerasan #kekerasananak #penganiayaan #kdrt
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/regional/663831/kasus-kekerasan-anak-di-subang-perkara-cekcok-dengan-suami-ibu-tega-bekap-anak-hingga-tewas