Di saat Donald Trump sibuk mendeklarasikan kemenangan semu di tengah kekacauan Selat Hormuz, lampu sorot justru menyala di panggung di mana China berada. China tiba-tiba diharapkan sejumlah negara untuk menjadi penyeimbang sekaligus penengah konflik yang dimulai Amerika Serikat di Iran.
Sorotan juga tertuju pada cara kerja China yang tampil bagai "karang" yang tenang di tengah gelombang tekanan krisis energi imbas perang. Ini tidak lepas dari ketahanan energi yang telah dibangun bertahun-tahun melalui cadangan minyak raksasa dan diversifikasi pasokan yang tak tersentuh blokade.
Ketangguhan strategis ini membuat Beijing bertransformasi menjadi pusat gravitasi dunia, menarik kunjungan pemimpin negara mulai dari Spanyol hingga Uni Emirat Arab yang mulai skeptis terhadap dominasi Amerika Serikat dan lebih memercayai mediasi Xi Jinping.
Kini pertanyaan yang muncul adalah apakah China benar-benar mau menjadi juru damai atau sekadar memanfaatkan situasi ini untuk mengukuhkan diri sebagai satu-satunya rival yang mampu menjinakkan pengaruh Amerika di Timur Tengah?
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia Narator: Elisabeth Putri Mulia Video Editor: Elisabeth Putri Mulia Produser: Marvel Dalty