Warga Iran merespons keinginan Amerika Serikat yang ingin mengelola biaya tarif di Selat Hormuz. Iran menilai AS serakah dengan ingin menguasai kawasan yang menjadi teritorial bangsa Persia sejak dahulu kala.
"Saya tidak habis pikir, mereka bilang: 'Kami akan masuk ke rumahmu, dan kalau ada kapal yang lewat (Selat Hormuz), kita bagi dua biayanya.' Maksudnya apa coba? Anda (Amerika) mau datang ke Selat Hormuz, padahal itu warisan leluhur kami, lalu Anda mau jadi pengawas di sana? Kami bisa mengawasinya sendiri," ucap Hamid Haghdi, salah seorang warga Iran.
Pejabat parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengejek ancaman Donald Trump sebagai retorika "pemimpin yang kalah perang" setelah pihak AS, termasuk Wapres JD Vance, dikabarkan mengakui bahwa mereka pulang tanpa hasil.
"Pernyataan yang mulai dia gembar-gemborkan hanya beberapa jam setelah perundingan, seperti 'saya akan melakukan ini' dan 'saya akan melakukan itu' di Laut Oman dan Samudra Hindia, itu semua cuma bagian dari khayalannya. Wajar saja kalau seorang presiden yang gagal bicara begitu," sindir Azizi saat diwawancarai televisi pemerintah Iran, Minggu (12/4/2026).
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Sumber Video: AFPTV
#global #konflik ##kompascomlab #selathormuz #iran #amerika #iranvsamerika #gencatansenjata