Warga Lebanon mengecam keras serangan dan invasi Israel selama masa gencatan Iran dan Amerika Serikat. Israel terus membombardir kawasan komersial dan pemukiman di pusat kota Beirut hingga Rabu (8/4/2026).
Abdul Rahman Mohammad, salah seorang warga Lebanon mengaku ibu dan sejumlah anggota keluarganya tewas dalam serangan brutal Israel, pada Rabu (8/4/2026).
"Seluruh keluarga saya gugur sebagai martir, ibu saya, kedua saudara perempuan saya, istri saudara laki-laki saya, dan saudara laki-laki saya yang berusia 20 tahun, di lingkungan Hay al-Sellom di kota Al-Abbas. Mereka diserang tanpa peringatan apa pun. Ini adalah kebrutalan Israel," ungkap Abdul.
Nada Jaber, seorang lansia di Lebanon mengecam tindakan Netanyahu dan meyakini akan ada pembalasan atas dosa yang dilakukan Israel.
"Kami tidak akan pernah menyerah, bahkan jika mereka membunuh kami semua. Kau akan tenggelam ke laut, Netanyahu," tangis Nada.
Serangan udara tanpa peringatan ini terjadi hanya beberapa jam pascapengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, yang menewaskan sedikitnya 182 orang serta melukai ratusan lainnya.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu beralasan bahwa Lebanon dan Israel tidak masuk dalam proposal gencatan senjata, sehingga menjadi dasar dirinya dan IDF terus menginvasi Lebanon. Sementara mediator Pakistan dan pihak Iran mengeklaim Lebanon masuk dalam cakupan kesepakatan.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Daniel Kalis Jati Mukti
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
#global #perang ##kompascomlab #Lebanon #Israel #DonaldTrump #GencatanSenjata
Music: The Long Night - Quincas Moreira