Masing-masing sekutu Iran dan Amerika Serikat menujukkan arah dukungan berbeda terkait perang yang terjadi sejak pecah pada 28 Februari 2026.
China, sekutu Iran menunjukkan arah dukungannya kepada Teheran meski dalam tekanan AS dan Israel. China disebut terus mendukung ekonomi negara itu dengan membeli minyak sambil terus menekan AS-Israel di panggung global melalui narasi diplomasi.
Iran justru mendapatkan sokongan ekonomi yang krusial dari China. Meskipun tidak mengirim tentara, Beijing menjadi penyangga utama dengan membeli lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran melalui sistem barter dan jaringan kilang swasta kecil (teapots) guna mengakali sanksi internasional.
Sementara Presiden Donald Trump secara terbuka menyindir sekutunya seperti NATO, Jepang, Australia, dan Korea Selatan karena dianggap tidak membantu dalam perang tersebut.
Di sisi lain, para pemimpin dunia mulai mengambil jarak dari Washington karena ketidakpastian kebijakan Trump, seperti yang ditegaskan oleh anggota parlemen Jerman, Roderich Kiesewetter, bahwa AS bukan lagi mitra yang dapat diandalkan.
Fenomena ini memicu seruan lantang dari Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk membentuk "koalisi kemerdekaan" agar negara-negara dunia tidak lagi menjadi boneka dari dua kekuatan hegemonik, baik Amerika Serikat maupun China. Dinamika ini menunjukkan pergeseran geopolitik besar di mana dunia perlahan bergerak menuju tatanan yang lebih mandiri dan tidak lagi berpusat pada satu kekuatan tunggal.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Canada - Ramzoid
#global #konflik ##kompascomlab #Iran #Amerika #Perang #IranvsAmerika