Satu bulan konflik, Iran membuktikan taktik asimetris rudal hingga cekikan ekonomi di Selat Hormuz lebih menyakitkan dibandingkan senjata konvesional Amerika Serikat dan Israel.
AS dan Israel boleh memberi luka untuk Iran dengan menewaskan para tokoh penting dan infrastruktur negara itu, tapi balasan Iran nyatanya menyakiti satu dunia yang berujung kecaman terhadap AS dan Israel.
Strategi asimetris Iran terbukti mampu menyudutkan Amerika Serikat melalui taktik "buah simalakama" yang menguras biaya perang jauh lebih besar daripada hasil yang didapat. Alih-alih mengejar kemenangan taktis di medan tempur, Iran fokus meningkatkan presisi rudal tandan yang menyulitkan sistem pertahanan udara AS dan Israel, sembari mencekik ekonomi global melalui penutupan Selat Hormuz.
Keberhasilan Iran dalam memonetisasi jalur perdagangan tersebut dan ancaman penutupan Selat Bab el-Mandeb membuat posisi Donald Trump terjepit, hingga muncul istilah TACO (Trump Always Chicken Out) karena kecenderungannya untuk mundur diam-diam dari kekacauan yang ia mulai sendiri.
Iran berhasil membuat harga perang menjadi terlalu mahal untuk dibayar, memaksa AS mencari jalan keluar yang tidak bertanggung jawab di mata sekutu internasionalnya.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Elisabeth Putri Mulia
Produser: Marvel Dalty
Music: Eyes of Glory - Aakash Gandhi
#global #konflik ##kompascomlab #iran #iranvsamerika #perangiranamerika #donaldtrump