Kuba gelap gulita pada Minggu (22/3/2026) karena mengalami krisis energi parah, sehingga melakukan pemadaman listrik berulang. Ini merupakan blackout ketiga pada Maret 2026.
Krisis ini dipicu blokade minyak oleh Amerika Serikat di bawah Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ditambah lagi infrastruktur energi Kuba telah menua.
Kuba mengakui telah memulai pembicaraan dengan AS karena dampak embargo dan krisis ekonomi yang semakin dalam. Meski demikian, pemerintah Kuba menegaskan kedaulatan politiknya tidak bisa dinegosiasikan dengan AS.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas laporan yang menyebutkan bahwa Washington berupaya melengserkan Presiden Miguel Diaz-Canel dari pucuk kekuasaan Kuba.
"Saya dapat mengonfirmasi secara kategoris bahwa sistem politik Kuba tidak untuk dinegosiasikan. Tentu saja, posisi Presiden maupun pejabat mana pun di Kuba tidak tunduk pada negosiasi dengan AS," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Kuba Carlos Fernandez de Cossio, Jumat (20/3/2026).
Di sisi lain, warga merasa frustasi menghadapi krisis ini.
"Kami harus mencoba bertahan. Kami harus beradaptasi dengan situasi ini, dengan atau tanpa listrik," ujar warga.
Penulis: Danur Lambang Pristiandaru, Associated Press
Kreatif: Blanka Rahel Maretha Joanne
Produser: Reza Kurnia Darmawan
~R #Kuba #Global #Cut