Meninggalnya Ali Larijani oleh serangan Israel disebut menjadi petaka baru bagi Amerika Serikat yang sedang berusaha mencari cara mengakhiri perang.
CNN dalam laporannya, Rabu (18/3/2026) menggambarkan kepergian Larijani sama dengan perang panjang yang tidak berujung. Hilangnya sosok yang pragmatis layaknya Larijani akan menjadikan pentolan militer Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk memegang tongkat estafet komando, sehingga pintu diplomasi kian tertutup.
Ini yang dikhawatirkan para analis bahkan eks perwira mossad, Sima Shine. Kepada The New York Times, Shine menjelaskan kemungkinan yang menggantikan Larijani adalah sosok tanpa kompromi yang saat ini mengendalikan strategi perang atau mantan perwira IRGC senior.
"Merekalah yang sebenarnya melancarkan perang. Dan memperkuat IRGC berarti melanjutkan perlawanan, melanjutkan perang, dan mengajukan tuntutan yang tidak dapat diterima oleh AS dan Israel," jelas Shine.
Israel disebut belum juga belajar dari sejarah, bahwa mereka bisa memenggal kepala kekuasaan tapi tidak ada jejaknya mampu mengganti rezim. Iran yang sudah terdesentralisasi dalam wujud mosaic defense telah membuktikannnya, bahkan tersingkirnya Ali Khamenei, tak juga bukti kemenangan strategis yang tercapai.
Kini AS yang harus menanggung tanggung jawab ini, apalagi dalam situasi terjepit di selat Hormuz, tak ada satupun sekutunya yang datang membantu.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
Music: Heaven and Hell - Jeremy Blake
#global #konflik ##kompascomlab #Iran #AS #Israel #AliLarijani #IranVsIsrael #IranVsAS