Perang antara AS-Israel melawan Iran tidak hanya menjadi pertarungan senjata tapi pertarungan dua mentalitas tentara yang bertolak belakang.
Di seragam tentara Iran tertulis "Shahid Rah-e Quds" alias Syuhada di Jalan Al-Quds. Sebuah keyakinan yang mengakar dari Karbala hingga Revolusi Islam 1979, bahwa mati syahid bukan kekalahan melainkan tujuan tertinggi. Iran tidak merilis pasti berapa banyak tentaranya yang tewas, namun korban di sana sudah mencapai lebih dari 1.000 orang. Namun doktrin mati syahid yang melekat dalam militer mereka seakan jumlah kematian harus sama besar dengan perjuangan habis-habisan.
Keyakinan itu tidak hanya dipegang tentara di lapangan tapi juga pemimpin tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas di hari pertama perang dan langsung diabadikan sebagai martir.
Di sisi yang berlawanan, AS justru memperlihatkan gambaran yang berbeda. Prajurit AS bukan takut mati, tapi kalkulasi kematian bisa berdampak luas bagi politik dan geopolitik akan statusnya sebagai negara adidaya. Karenanya diperlukan bagi AS ini perlu perhitungan yang hati-hati sejak perang mencuat.
Keputusan angkatan laut AS yang menolak mengawal kapal tanker di kawasan Selat Hormuz, dan trauma perang Irak-Afghanistan yang masih membayangi, menjadi bukti AS sangat berhitung untuk tidak mengorbankan nyawa prajurit di medan pertempuran. AS nekat menggunakan mengeluarkan biaya lebih banyak untuk membangun pertahanan canggih dengan harapan salah satunya, menurunkan angka kematian militernya.
Apalagi saat ini status mereka sebagai adidaya memberi sorotan negatif baik dari dalam negeri maupun dunia jika korban tentara di pihak mereka banyak berjatuhan.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Narator: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
Music: Duty Calls - Rod Kim
#global #perang ##kompascomlab #iran #amerika #iranamerika #perangiran