Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang dialog dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tanpa prasyarat, sebagaimana disampaikan pejabat Gedung Putih pada Kamis (26/2/2026).
Pernyataan ini muncul usai sebelumnya Kim menyatakan dalam Kongres Partai Buruh Korea, bahwa hubungan dengan Washington bisa membaik, jika AS menghentikan kebijakan yang dianggap bermusuhan terhadap Pyongyang.
Dalam pidatonya yang dikutip KCNA pada Rabu (25/2/2026), Kim menyebut Korut dapat rukun dengan baik dengan AS asalkan status nuklir negaranya diakui, namun menutup peluang perbaikan hubungan dengan Korea Selatan.
Pernyataan itu muncul di tengah spekulasi kemungkinan pertemuan baru Trump dan Kim Jong Un, yang berpotensi menjadi terobosan setelah kebuntuan sejak KTT Hanoi 2019 gagal mencapai kesepakatan soal pencabutan sanksi dan konsesi nuklir.