Mahadi (54), warga Ciketing Udik, memanfaatkan masa pensiunnya dengan berjualan kopi di kawasan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Dari usaha tersebut, ia membantu membiayai pendidikan anaknya di perguruan tinggi.
Mahadi mengaku, dari berdagang kopi ia bisa memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp200.000 per hari. Setelah dikurangi modal, ia membawa pulang sekitar Rp100.000. Penghasilan tersebut ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu membiayai pendidikan anaknya.
Mahadi memiliki dua anak. Anak pertamanya telah berkeluarga, sementara anak keduanya saat ini menempuh pendidikan di Universitas Terbuka.
"Bisa, bisa (buat biayai kuliah anak). Saya enggak merokok soalnya. Daripada merokok mending buat anak," kata Mahadi saat ditemui di Bantar Gebang.
Mahadi mulai berjualan sejak pukul 06.00 hingga sekitar pukul 11.00 WIB. Setelah beristirahat, ia kembali berjualan pada sore hari. Pelanggannya sebagian besar merupakan sopir truk, pemulung, pegawai serta orang yang melintas di kawasan TPST Bantar Gebang.
Menurut Mahadi, berdagang kopi memberinya keleluasaan mengatur waktu sendiri dibanding saat bekerja di perusahaan.
"Kalau kerja di orang diatur orang ya, kalau ini saya bisa waktu istirahat sendiri, kalau mau sholat juga bisa, ibarat punya perusahaan sendiri," kata Mahadi.
Melalui usaha kecil tersebut, Mahadi berharap tetap bisa menjalani masa pensiun dengan produktif sekaligus membantu kebutuhan keluarganya.
Simak selengkapnya dalam video berikut ini.
Penulis: Cynthia Lova
Video Jurnalis: Cynthia Lova
Video Editor: Cynthia Lova
Produser: Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas
#bantargebang #bekasi ##pedagangkopi #kopikeliling #kisahinspiratif #feature #vjlab