JAKARTA, KOMPAS.TV - Sebuah surat yang diberi gambar anak sedang menangis menjadi potongan sinyal penting yang tak bisa diabaikan pada tragedi meninggalnya siswa kelas 4 SD di Ngada, NTT. Bagi psikolog keluarga Alissa Wahid, gambar tersebut bukan sekadar coretan, melainkan representasi emosi terdalam seorang anak yang sedang berada dalam tekanan berat.
Alissa menilai, bisa jadi saat itu anak merasa tidak memiliki pilihan lain. Ada kemungkinan ia berpikir keputusan tersebut adalah satu-satunya cara untuk membuat situasi menjadi lebih ringan—bagi dirinya, bahkan bagi orang-orang yang ia cintai.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) periode 2022–2027, Margaret Aliyatul Maimunah, menegaskan bahwa anak pada dasarnya berada dalam posisi yang rentan dan labil secara emosional. Karena itu, keberadaan support system menjadi krusial.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/fXp27lsQ16U
**diskusi ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu untuk bercerita dan berkonsultasi kepada ahli.
#siswa #alissawahid #kpai
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/talkshow/649148/tragedi-siswa-di-ntt-alissa-wahid-ungkap-beban-yang-dipikul-lewat-surat-dan-gambar-tangisan-rosi