Dalam ceramah ini, ustaz mengajak kita bercermin tentang realita kehidupan yang sering terjadi: banyak orang terlihat “sempurna” secara luar, harta ada, rumah bagus, pasangan menarik, penampilan rapi, tapi wajahnya jarang tersenyum dan hatinya terasa sempit. Masalahnya bukan di alis, bukan di lipstick, tapi di hati.
Beliau menegaskan bahwa rusaknya hubungan antar manusia sering kali berawal dari hasad, iri, dan dengki.
Inilah yang sangat ditakuti oleh Nabi SAW. Bahkan dalam doa pun kita selalu memohon perlindungan dari hasad, karena penyakit ini bisa merusak ketenangan batin, persahabatan, bahkan ibadah.
Ustaz juga menjelaskan bahwa tidak semua iri itu tercela. Ada iri yang dibolehkan dalam agama, yaitu iri terhadap kebaikan, seperti melihat orang ringan bersedekah, rajin ibadah, atau dermawan.
Iri yang seperti ini disebut ghibthah, yaitu iri yang memotivasi diri untuk ikut berbuat baik, bukan iri yang ingin orang lain kehilangan nikmatnya.
Dalam ceramah ini juga diceritakan bagaimana para sahabat, baik dari kaum Muhajirin maupun Anshar, berlomba-lomba mendekat kepada Rasulullah karena ingin bersedekah, meski kondisi mereka terbatas.
Rasulullah mengajarkan bahwa sedekah tidak selalu tentang harta. Jika tidak punya uang, masih banyak jalan kebaikan lain: tenaga, senyum, membantu, mengangkat karpet, merapikan, dan hal-hal kecil yang sering kita remehkan.
Pesan penting dari ceramah ini adalah: jangan merasa kecil hanya karena tidak punya harta. Selama masih sehat dan mau bergerak, pintu amal shalih selalu terbuka.
Hati yang bersih dari iri dan dengki akan membuat hidup lebih ringan, hubungan lebih hangat, dan ibadah lebih nikmat.
Sahabat Kompas TV,
saksikan video lengkapnya hanya di channel youtube Kalam Hati,
setiap hari Minggu jam 13.00 WIB.
Jangan lupa Like, Comment, and share.
Serta follow akun Instagram kita di: @dikalamhati
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/kalam-hati/643857/hati-kotor-bikin-hidup-tidak-tenang-kalam-hati