JAKARTA, KOMPAS.TV - Kreator konten DJ Donny membantah keras tudingan bahwa teror pelemparan bom molotov ke rumahnya hanyalah rekayasa demi popularitas.
Tuduhan tersebut, menurut Donny, justru muncul setelah dirinya melaporkan insiden itu ke kepolisian.
Dalam program ROSI KompasTV, DJ Donny menegaskan bahwa sebelum peristiwa teror terjadi, jumlah pengikutnya di media sosial sudah lebih dari cukup. Ia menyayangkan munculnya anggapan bahwa dirinya sengaja “playing victim” untuk mendulang simpati publik.
Donny juga menepis anggapan bahwa teror tersebut dimanfaatkan untuk eksploitasi personal. Ia menegaskan tidak ada satu pun orang yang menginginkan rumahnya menjadi sasaran serangan berbahaya, terlebih dalam kondisi keluarganya yang rentan.
“Siapa sih yang mau rumahnya dilempar bom molotov? Istri saya lagi hamil tujuh bulan,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, pada kejadian pertama, ia hanya mengunggah peristiwa itu di media sosial dan belum melapor ke polisi. Namun setelah teror kembali terjadi, Donny memutuskan menempuh jalur hukum dengan melapor ke Polri. Ironisnya, langkah tersebut justru memunculkan tudingan baru bahwa kasus itu direkayasa.
Menurut Donny, posisi korban menjadi serba salah. Tidak melapor disalahkan, melapor pun tetap dituding berbohong.
“Lapor salah, enggak lapor salah. Dibilang rekayasa. Ini kan aneh,” katanya.
Donny menegaskan, tuduhan rekayasa semestinya dibuktikan secara hukum, bukan sekadar opini di media sosial. Ia menilai, pihak-pihak yang menuduh tanpa dasar justru meragukan proses penegakan hukum itu sendiri.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/jeVZMgCs640?si=BI1FL3XpcEbJl76p
#teror #aktivis #contentcreator
Artikel ini bisa dilihat di :
https://www.kompas.tv/talkshow/642905/dj-donny-lapor-polisi-pasca-teror-bom-molotov-dan-bantah-pansos-demi-popularitas-rosi