Hingga memasuki pekan pertama Januari 2026, kondisi Iran terus dihantam gelombang protes yang tak kunjung mereda.
Harga bahan pokok di Iran terus melonjak tajam setelah pemerintah mengubah kebijakan subsidi di tengah tekanan ekonomi dan gelombang protes yang pecah sejak akhir Desember 2025.
Bank Sentral Iran menghentikan nilai tukar preferensial dollar rial bersubsidi untuk hampir semua produk, kecuali obat-obatan dan gandum, guna menekan penyalahgunaan kurs oleh importir.
Namun, kebijakan ini justru mempercepat depresiasi mata uang dan berdampak langsung pada ketersediaan serta harga barang di pasar, dengan harga minyak goreng dilaporkan naik hingga dua kali lipat dan sejumlah rak toko kosong akibat kekhawatiran pedagang menjual dengan harga rugi.
Kenaikan harga terjadi pada keju, ayam, dan beras impor, memaksa banyak warga hanya membeli kebutuhan pokok. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyalahkan inflasi, sanksi internasional, dan masalah struktural sebagai pemicu krisis, serta memperingatkan potensi masa sulit ke depan.
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah tidak mencabut subsidi, melainkan mengalihkannya ke skema bantuan tunai yang akan disalurkan langsung ke rekening seluruh penduduk.
Simak selengkapnya dalam video berikut!
Penulis Naskah: Elisabeth Putri Mulia
Video Editor: Fathir Rohman
Produser: Marvel Dalty
#global #konflik ##kompascomlab #Iran #DemoIran